Mulai kemaren gue pindah departemen lagi, will be here for another 2 months. Seperti biasa, mesti persiapan mental untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan yang udah gue dengar ribuan kali, misalnya:
“Namanya siapa? Apa? Tini? Rini? Nini?”
“Umurnya berapa?”
“Punya pacar?”
“Cowo Korea oke ga?”
“Oke-an mana cowo Korea apa cowo Indonesia?”
“Bisa bahasa Korea ga?”
“Udah berapa lama tinggal di Korea?”
“Orang tua kerjanya apa?”
“Bisa bahasa Inggris ga?”
dan ratusan bahkan ribuan pertanyaan ‘amazing’ berulang lainnya… *’elus-elus dada’ mode on”
Oh nooo… Tau ga rasanya pengen banget ngapain? Pengen bikin FAQ tentang gue dan Indonesia tercinta, diketik, bawa ke percetakan, bikin mini book atau pamflet atau whatever, supaya tiap pindah departemen bisa dibagi-bagiin keĀ orang-orang.Ā wehehe
Tapi lumayan seneng juga pindah ke departemen ini, soalnya gedungnya deket banget dari rumah. Cuma 3 stasiun subway, atau kalo naik bis (udah termasuk jalan kaki dari dan ke halte), paling lama 25 menit. Malahan bisa jalan kaki, kira-kira 1 jam (dari stasiun deket rumah gue sampe kantor baru ini ada jalanan yang khusus dibikin untuk olahraga atau jalan kaki). Gue suka banget sama tempat jalan kaki ini, salut sama Korea
Kapan-kapan gueĀ bahas lagi tentang tempat jalan kaki ini.Ā Ga enaknya gedung ini cuma 1, pilihan tempat makannya dikit banget mengingat lokasinya rada minggir dari kota.
Kemaren gue mulai latihan Taekwondo di TMAS Itaewon–tempat latihan Martial Arts untuk foreigners, jadi ngajarnya juga pake bahasa InggrisĀ (http://www.t-m-a-s.com/index.asp).Ā Tujuannya?Ā Bukan untuk tanding di Olimpiade kok.Ā Cuma buat have fun, sukur-sukur bisa buatĀ memberantasĀ kejahatan diĀ muka bumi, wehehe.Ā Seumur hidup ini pertama kalinya gue ikutan beginian (Martial Art, olahraga beladiri, atau whatever namanya), jadi ya kaku-kaku gitu lah. Pengen ngikik-ngikik sendiri ngeliat gaya gue di kaca, tapi kan mesti serius. Jadilah muka gue aneh gitu sepanjang latihan, mesem-mesem ga jelas.
Sebenernya gue ga mesti belajar taekwondo yang khusus foreigners begini. Cuma masalahnya kalo di tempat-tempat buat orang lokal, murid-muridnya anak-anak semua–yang ada gue bakal jadi veteran di sana. Secara orang Korea emang diwajibin belajar taekwondo dari kecil. Terus tensi ngajarnya juga beda. Kalo tempat biasa gurunya gualaknya minta ampun dan kalo lemot bisa kena pukul, sebaliknya di sini ngajarnya pake senyum-senyum dan kalo lemot palingan dibilangin “ga apa-apa, ntar lama-lama juga biasa”. Bisa dibayangin kan, kualitas lulusannya juga beda pastinya, hehe.
Berhubung tempat ini baru buka banget, muridnya juga masih sepi. Kemaren cuma ada gue sama bli Putu–suaminya mba Vicka. Jadi berasa les privat. Enaknya sepi gini, karena ga perlu takut bergaya aneh, berhubung yang ngeliat cuma gurunya sama temen sendiri. Tapi ga enaknya ya jadi kurang rame aja..
Emang dasar lagi norak-noraknya pertama kali ikut beginian, gue seneng banget pas pertama kali nerima seragam yang ada bordiran nama gue. Apalagi pas nerima sabuk putih pertama gue, rasanya pengen gue bawa pulang buat temen tidur. wehehehe. Eniwei, kayanya taekwondo ini kayaknya lumayan berdampak positif buat gue. Walaupun ga bikin kurus apalagi perut 6 pack yang gue idam-idamkan selama ini, tapi efek psikologisnya lumayan oke. Pas pulang ke rumah jadi feeling so good aja gituh, hihi.
Sekilas info, berikut ini filosofinya sabuk taekwondo: (thanks to Wikipedia)
-
Putih melambangkan kesucian, awal/dasar dari semua warna, permulaan.
-
Kuning melambangkan bumi, disinilah mulai ditanamkan dasar-dasar Taekwondo dengan kuat.
-
Hijau melambangkan hijaunya pepohonan, pada saat inilah dasar Taekwondo mulai ditumbuhkembangkan.
-
Biru melambangkan birunya langit yang menyelimuti bumi dan seisinya, memberi arti bahwa kita harus mulai mengetahui apa yang telah kita pelajari.
-
Merah melambangkan matahari artinya bahwa kita mulai menjadi pedoman bagi orang lain dan mengingatkan harus dapat mengontrol setiap sikap dan tindakan kita.
-
Hitam melambangkan akhir,kedalaman,kematangan dalam berlatih dan penguasaan diri kita dari takut dan kegelapan.
Ā